Nikah Pembahasan 2

Wali nikah adalah yang berhak menikahkan calon mempelai wanita kepada pria dengan syarat-syarat tertentu :
1. Laki-laki
2. Islam jika mempelai wanita muslimah
3. Baligh
4. Berakal
5. Merdeka
6. Adil (yaitu tidak pernah melakukan dosa besar dan jarang melakukan dosa kecil) atau
minimal tidak fasiq menurut sebagian ulama.
7. Rosyid (yaitu yang dapat mengatur urusan dunianya begitu pula urusan akhiratnya
menurut sebagian ulama).

Wali nikah terbagi menjadi dua : khusus dan umum.

Wali khusus terbagi menjadi dua : dekat dan jauh.

Wali dekat terbagi menjadi dua : yang dapat memaksa dan yang tidak dapat memaksa.

Berikut urutan wali-wali nikah secara urut :
1. Ayah (dapat memaksa putrinya menikah dengan pilihannya dengan 5 syarat)
a. Tidak memiliki permusuhan yang tampak antara wali dengan mempelai wanita.
b. Menikahinya dengan pria sederajat.
c. Tidak ada permusuhan antara kedua mempelai baik dzohir ataupun bathin. *jika
mempelai wanita masih kecil atau belum baligh.
d. Mempelai pria mampu membayar mahar mitsli (mahar normal untuk wanita yang
sederajat dengannya di daerah tersebut). *jika mempelai wanita masih kecil atau
belum baligh.
e. Mempelai wanita masih perawan (yang masih terjaga keperawanannya atau telah
pecah karena sebab selain bersetubuh).
2. Kakek (dapat memaksa dan sama seperti ayah dalam syarat-syarat).
3. Saudara laki-laki kandung se-ibu dan se-bapak (dari urutan ketiga sampai akhir harus dapat izin
secara lafal dari mempelai wanita dan disaksikan oleh 2 saksi yang adil).
4. Saudara laki-laki se-bapak.
5. Anak laki-laki dari saudara laki-laki kandung (keponakan).
6. Anak laki-laki dari saudara laki-laki se-bapak.
7. Saudara laki-laki kandung bapak (paman).
8. saudara laki-laki se-bapak dengan bapak.
9. Anak laki-laki saudara laki-laki kandung ayah (sepupu).
9. Anak laki-laki saudara laki-laki se-bapak dengan ayah.

Wali nikah dapat diwakilkan dengan ucapan sesuai kewenangan masing-masing wali, jika wali mujbir (ayah atau kakek) maka tidak perlu izin dari mempelai wanita dan tetap teguh dalam perwakilan hingga akad selesai. Adapun wali ghoiro mujbir (selain ayah dan kakek) maka harus dengan seizin mempelai wanita dan harus teguh dalam perwakilan keduanya hingga selesai
akad nikah.
Jika wali se-nasab tidak ada maka wali setelah mereka adalah yang membebaskannya dari perbudakan sesuai urutan nasab hanya saja tidak ada wali mujbir.
Setelah itu jika tidak ada juga maka walinya adalah hakim yang ditentukan oleh pemerintah setempat dengan ketentuan-ketentuan syarat-syarat wali di atas.

Terkadang seseorang dapat mengangkat hakim yang beriman dan adil untuk menikahinya jika sudah kepepet seperti di tengah lautan dan khawatir zina, orang yang diangkatnya menjadi hakim disebut muhakkam, dan bila sampai di sebuah daerah maka harus mengulangi nikahnya
sesuai ketentuan di atas.

Apabila ada pertanyaan bisa mengisi kolom komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.